Beijing, Bharata Online - Diplomat utama Tiongkok, Wang Yi, pada hari Rabu (22/4) mengatakan bahwa Tiongkok akan mengambil langkah proaktif untuk memperdalam kerja sama, tetap menjadi promotor dan kontributor bagi pembangunan global, dan bekerja sama dengan semua pihak untuk mewujudkan lanskap baru bagi pembangunan global melalui tindakan nyata.
Wang, Anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok dan Direktur Kantor Komisi Pusat untuk Urusan Luar Negeri, menyampaikan pernyataan tersebut saat berpidato di Konferensi Tingkat Tinggi Ketiga Forum Aksi Global untuk Pembangunan Bersama di Beijing.
Mencatat bahwa tahun ini menandai peringatan lima tahun Inisiatif Pembangunan Global atau Global Development Initiative (GDI), Wang mengatakan bahwa GDI telah berkembang dari usulan Tiongkok menjadi konsensus internasional dengan hasil praktis yang kaya.
"Inisiatif Pembangunan Global (GDI) sejauh ini telah memobilisasi lebih dari 23 miliar dolar AS (sekitar 397,5 triliun rupiah) dalam pendanaan dan meluncurkan lebih dari 1.800 proyek kerja sama. Melalui Dana Pembangunan Global dan Kerja Sama Selatan-Selatan, Tiongkok juga telah bekerja sama dengan lebih dari 20 organisasi internasional untuk melaksanakan lebih dari 100 proyek trilateral di lebih dari 50 negara," ujar Wang dalam pidatonya di acara tersebut.
Wang mengatakan, Tiongkok siap bekerja sama dengan semua pihak untuk menjadikan implementasi GDI sebagai platform, mengumpulkan sumber daya pembangunan yang luas, membangun fondasi yang kokoh untuk pembangunan, tetap berkomitmen pada jalur pembangunan damai, mendorong lingkungan yang terbuka untuk pembangunan, dan terus maju menuju tujuan membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.
Pertemuan yang diselenggarakan oleh Badan Kerja Sama Pembangunan Internasional Tiongkok ini telah mempertemukan perwakilan dari lebih dari 140 negara, organisasi internasional, dan lembaga lainnya melalui saluran daring dan luring.
Delegasi lain di forum tersebut juga menggarisbawahi pentingnya menjaga pembangunan tetap menjadi pusat agenda global.
"Semakin jelas bahwa pembangunan tidak dapat dianggap sebagai hal sekunder dalam agenda global. Pembangunan menopang perdamaian dan stabilitas, melindungi kedaulatan, dan menjunjung tinggi martabat manusia. Tanpa itu, tidak akan ada perdamaian abadi, inklusivitas sejati, dan masa depan yang berkelanjutan," kata Presiden Mozambik, Daniel Chapo.
Para ahli mengatakan, perubahan kebijakan baru-baru ini di Washington, termasuk penutupan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), penarikan diri dari Perjanjian Paris tentang perubahan iklim, dan pelepasan diri dari lembaga-lembaga seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), telah berkontribusi pada penurunan bantuan pembangunan global. Dalam konteks ini, bantuan semakin dipandang bukan sebagai landasan keterlibatan internasional, tetapi sebagai alat yang dibentuk oleh prioritas geopolitik dan ekonomi.
Dengan konflik yang sedang berlangsung dan urgensi perubahan iklim yang semakin meningkat, para pejabat mengatakan bahwa seruan untuk kerja sama harus melampaui retorika—dan diterjemahkan menjadi tindakan konkret dan terkoordinasi.
"Kita tahu bahwa dunia tertinggal dalam implementasi SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan). Senang mendengar dari Tiongkok bahwa visinya adalah untuk mengkonsolidasikan implementasinya," kata Sophie Muller, Perwakilan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di Tiongkok.
"Rasa stabilitas dan prediktabilitas ini berasal dari komitmen Tiongkok yang telah lama dan konsisten—bukan sebagai respons jangka pendek terhadap tantangan internasional saat ini," tutur Yao Shuai, Peneliti Senior di Akademi Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Ekonomi Tiongkok.