Tibet, Bharata Online - Opera Tibet, yang dianggap sebagai "fosil hidup" budaya Tibet dan memiliki sejarah lebih dari 600 tahun, telah mengalami upaya perlindungan dan pewarisan yang lebih kuat selama beberapa dekade terakhir.
Menggabungkan dialog, nyanyian, akting, tarian, dan sastra, Opera Tibet termasuk dalam kelompok pertama warisan budaya takbenda tingkat nasional, tiga tahun sebelum diakui oleh UNESCO dan dimasukkan dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
Berdasarkan cerita rakyat, legenda, dan kitab suci Buddha, pertunjukan tradisional biasanya dipentaskan di tempat penggilingan gandum, padang rumput, dan lapangan terbuka di kebun dan hutan pada siang hari. Tanpa tirai atau pencahayaan, para pemain yang mengenakan topeng tampil dengan iringan gendang dan simbal.
Menurut legenda, Opera Tibet pertama kali dipentaskan oleh tujuh bersaudara, dan ini tercermin dalam nama Tibetnya, Lhamo, yang berarti "dewi". Banyak tema dalam opera ini diambil dari kitab suci dan mitologi Buddha.
Opera Tibet telah berevolusi selama berabad-abad, dan pertunjukan saat ini umumnya terdiri dari tiga bagian: Wenba Dun, bagian pembuka di mana permohonan berkah dipanjatkan; Xiong, yang menggambarkan legenda epik; dan Tashi, bagian penutup di mana doa-doa dipanjatkan untuk keberuntungan. Di komunitas Tibet, opera tradisional tetap menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual dan budaya.
Saat ini, upaya yang lebih baik untuk melindungi warisan budaya tak benda Tiongkok membantu seni kuno tersebut untuk berkembang. Sementara itu, interpretasi inovatif menarik penonton baru, terutama kaum muda.