Johannesburg, Radio Bharata Online - Dialog Pemimpin Tiongkok-Afrika yang akan datang adalah kunci untuk kemitraan antara kedua belah pihak selama dekade mendatang, kata Menteri Perdagangan dan Industri Afrika Selatan, Ebrahim Patel.
Selama kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Afrika Selatan antara 21-24 Agustus 2023 untuk kunjungan kenegaraan dan KTT BRICS ke-15, ia juga akan menjadi ketua bersama Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, dalam Dialog Pemimpin Tiongkok-Afrika.
Dengan tema "Mempromosikan Integrasi Afrika dan Bersama-sama Membangun Komunitas Tiongkoka-Afrika Tingkat Tinggi dengan Masa Depan Bersama", dialog ini akan berfungsi sebagai platform bagi kedua belah pihak untuk melakukan pertukaran pandangan yang mendalam tentang cara-cara untuk bekerja sama dalam memajukan modernisasi mereka dan mendorong lingkungan yang damai, adil dan terbuka untuk pembangunan.
Ketua bersama Forum Kerja Sama Tiongkok-Afrika, Ketua Uni Afrika, dan perwakilan dari komunitas ekonomi regional telah diundang ke acara tersebut.
Dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan China Global Television Network (CGTN), Ebrahim Patel mengatakan bahwa benua Afrika memiliki sejarah perdagangan yang panjang dengan Tiongkok.
"Diskusi antara Tiongkok dan Afrika adalah salah satu diskusi yang menentukan untuk dekade berikutnya. Tiongkok adalah rumah bagi sejumlah besar penduduk dunia. Afrika adalah rumah bagi sejumlah besar penduduk dunia. Baik Tiongkok maupun Afrika dapat mengambil manfaat dari hubungan ini. Ratusan tahun yang lalu, pada masa Dinasti Song, orang-orang Afrika sudah berdagang dengan Tiongkok. Pada masa Dinasti Ming, pelayaran Zheng He menjadi inspirasi bagi perdagangan damai antara Afrika dan Tiongkok," katanya.
Ebrahim Patel mengatakan bahwa dialog ini dapat menciptakan peluang bagi Tiongkok dan Afrika untuk terus bekerja sama secara sinergis dan memberikan kekuatan masing-masing yang berbeda namun saling melengkapi.
"Di abad ke-21, ada tantangan-tantangan baru yang harus kita hadapi. Afrika memiliki basis bahan baku yang sangat besar. Tiongkok memiliki teknologi dan modal. Kemitraan antara keduanya dapat menjadi kemitraan yang saling menguntungkan. Tapi, hal ini membutuhkan lebih banyak investasi Tiongkok di benua Afrika dalam produk manufaktur. Dan itulah mengapa Presiden Xi Jinping dan Presiden Cyril Ramaphosa ingin memastikan bahwa pembicaraan ini berlangsung untuk menyelaraskan strategi investasi yang dikejar oleh Tiongkok dan bahwa Tiongkok melihat Afrika sebagai potensi besar dan sebagai teman baik," jelasnya.